Tampilkan postingan dengan label Samarinda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Samarinda. Tampilkan semua postingan

Jaringan Gerakan Mahasiswa Kerakyatan Melawan Kenaikan Harga BBM

Senin, 09 April 2012

Pada bulan Maret 2012, beberapa organisasi gerakan Mahasiswa yang tergabung dalam Jaringan Gerakan Mahasiswa Kerakyatan (JGMK), yaitu Yogyakarta (Resista), Samarinda (Konsentrasi Mahasiswa Progresif), Sumbawa Besar (Barisan Pemuda dan Mahasiswa Progresif), Makkasar (Front Mahasiswa Demokratik), Poliwali Mandar (Sentral Gerakan Mahasiswa Progresif), dan Mataram (Barisan Pemuda Progresif) serentak melakukan aksi perlawanan atas penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang akan disahkan pertanggal 1 April 2012. Aksi JGMK tersebut menyerukan agar momentum kenaikan harga BBM dapat digunakan sebagai persatuan gerakan Rakyat untuk menghancurkan rezim neoliberalisme yang selama ini bercokol di Indonesia.
Beberapa daerah tersebut yang melakukan aksi perlawanan diantaranya adalah dari Yogyakarta yaitu Resista. Massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Menggugat (AMM) melakukan aksi konferensi pers tepatnya di Bunderan Universitas Gadja Mada (UGM), kamis (29/3/12). Kemudian sabtu (31/3/12),  AMM melanjutkan aksinya dengan long march disepanjang jalan Malioboro. Meskipun hujan datang mengguyur, aksi ini tetap dilakukan dengan membagi-bagikan selebaran yang bertuliskan bahwa “Dengan naiknya harga BBM maka akan semakin menambah deretan panjang persoalan kemiskinan di Indonesia dan akan semakin akut serta akan berimbas pada kenaikan biaya pendidikan”. Dalam orasinya juga disebutkan bahwa “hanya dengan perlawanan yang besar dan massif oleh rakyat maka rencana kenaikan BBM akan dapat dibatalkan dan merebut kekuasaan ditangan Rakyat itu sendiri, dan sebaliknya, jika kekuasaan politik dan ekonomi berada ditangan elite politik, maka pencurian terhadap sumber daya alam kita akan semakin terkuras dan pembodohan akan terus berlangsung”. Aksi tersebut berlangsung hingga menjelang malam hari, dimana massa aksi dari Buruh, Perempuan, Mahasiswa, bergabung menjadi satu dan memblokir sepanjang jalan perempatan Gedung Agung Maliobro, Yogyakarta.
Di Samarinda, ratusan Mahasiswa dari Universitas Mualawarman (UNMUL) dan juga Konsentrasi Mahasiswa Progresif (Koma Progresif) yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Kaltim Bersatu (GRKB) terlibat bentrok dengan aparat kepolisian ketika menggelar aksi mereka, sabtu (31/3/12) sekitar pukul 19.00 wita.  Bentrokan terjadi akibat penuduhan terhadap rekan-rekan yang terlibat aksi massa dengan perusakan dan pembakaran kantor pos polisi di Simpang Empat Mal Lembuswana, Samarinda, pada Jumat (30/3/12) yaitu Aras, mahasiswa Universitas 17 Agustus Samarinda, serta empat mahasiswa Unmul yakni Henri Junardi, Yakob Anani, Natalis, dan Seketaris Jendral JGMK Nalendro Priambodo (Yoyok). Sebelumnya, Pada pukul 15:00 Wita, aksi GRKB diawali dengan konvoi menuju kampus Polliteknik Negri Samarinda, kemudian pada jam yang sama setibanya di bundaran Lembuswana  barisan telah di blokade oleh TNI/POLRI dan disertai dengan perlengkapan mobil Watercanon dan pasukan anti huru hara lalu melakukan sweaping dan melucuti bendera-bendera organisasi massa aksi. Barisan massa pun di geledah dan terjadi perdebatan antara koordinator aksi (Michael). Dan akhirnya aparat kepolisian menangkap massa aksi yaitu Yakub, Natalis, Nalendro, Hendrik, dari barisan aksi dan kemudian membubarkan paksa barisan aksi. Yang akhirnya massa aksi menarik diri ke Gedung Student Center Universitas Muluarman. Sesampainya dikampus massa aksi melakukan konsolidasi untuk meyikapi penangkapan 5 orang kawan yang tertangkap oleh aparat kepolisian akan tetapi disambut dengan pembubaran paksa aksi Massa. Lalu massa melakukan aksi mimbar bebas di depan Gerbang UNMUL kemudian dikepung oleh aparat dengan persenjataan yang lengkap. Sekitar Pukul 20.00 Wita pasukan anti huru-hara (TNI/POLRI dan BRIMOB) dari arah Perempatan Lembuswara menyerang massa dengan tembakan gas air mata, peluru karet dan Watercanon. Massa mundur dan melakukan perlawanan dengan melempari petugas dengan batu – batuan dan bom molotov. Sekitar 1.100 aparat keamanan yang terdiri dari Satuan Dalmas, Brimob dan sekitar 500 orang personel TNI disiagakan di Samarinda untuk mengantisipasi tindakan anarkis yang mungkin dilakukan pengunjuk rasa yang menolak kenaikan harga BBM tersebut.
Dari Sumbawa Besar, Barisan Pemuda dan Mahasiswa Progresif (BPMP) yang tergabung dalam massa aksi Front Rakyat Anti Rezim SBY-Bud (FROTAS-B) melakukan aksi long march dan melakukan sweaping atas mobil dinas (31/3/12). Aksi tersebut dimulai dari kantor pemerintah daerah dan gedung DPRD Sumbawa. Kemudian pada tanggal 1 april 2012, aksi dilakukan kembali. Salah satunya dengan cara “Grafiti Action” atau coret-coret jalanan dan tembok yang ada disepanjang jalan sebagai simbol menolak hasil keputusan paripurna DPR RI UU APBN 2012 pasal 7 ayat 6a dan juga membagi-bagikan selebaran beserta tuntutan massa aksi kepada Negara. Dalam pernyataan sikap bersama, disebutkan juga bahwa “Dengan naiknya harga BBM akan menambah beban rakyat, karena BBM merupakan kunci dari segala macam harga bahan pokok, maka secara otomatis harga-harga bahan pokok akan melonjak. Dan hari ini rejim SBY-boediono dipimpin oleh orang-orang yang tunduk kepada kekuasaan modal dan disetir oleh kaum komprador internasional yang lebih tunduk kepada kaum pemodal.”

Dari Makkasar, massa aksi yang menamakan SekBer (Sekretariat Bersama) Perjuangan Rakyat Sul-Sel yang dimana Front Mahasiswa Demokratik (FMD) juga terlibat dalam aliansi tersebut melakukan aksi di depan gedung DPRD dengan memberikan tekanan kepada anggota dewan untuk menandatangani kesepakatan menolak rencana kenaikan harga BBM. Kemudian aksi dilanjutkan di seputaran Flyover makassar dan memblokade jalan tol reformasi dari arah urip sumohardjo dan AP pettarani, kota Makkasar. Beberapa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang terdiri dari enam kampus (UNHAS, UMI, Univ.45, UNM, UIN Alauddin dan UNISMUH) juga turut serta dalam pemblokiran jalan yang berbuntut pada aksi bentrok antara Mahasiswa dengan aparat kepolisian pada saat itu.

Di Mataram, Barisan Pemuda Progresif (BPP) yang juga tergabung dalam Aliansi Pemuda dan Mahasiswa NTB (APM NTB) melakukan aksi damai yang dimulai dari taman budaya Mataram hingga ke gedung DPRD. Keterlibatan beberapa kampus seperti Universitas Negri Mataram (IKIP) dan Universitas Muhhamadiah Mataram (UNRAM) juga turut serta dalam penolakan kenaikan harga BBM tersebut.

Dan terakhir di Poliwali Mandar (PolMan), Sentra Gerakan Mahasiswa Progresif (Sergap) terlibat dalam aksi massa yang menamakan aliansi Koalisi Nasional Untuk Kedaulatan Rakyat (KONTRA). Aksi pertama dilakukan pada tanggal 16 Maret 2012 dengan menghalang dan menaiki mobil tangki Pertamina dan berorasi diatas mobil tersebut kurang lebih 20 menit. Kemudian massa beranjak ke gedung DPRD, dan membakar satu ban bekas sambil melanjutkan orasi politiknya, aksi dorong-dorongan hingga berujung pemukulan tepat diatas kepala Abdul Azis (Koor.Lap) oleh aparat keamanan tidak terhindarkan, dan aksi terus berlanjut hingga selesai. Kemudian dilanjut pada tanggal 29 Maret 2012, massa aksi menggelar orasi politiknya didepan kampus UNASMAN. Ruang dan kelas kampus pun di sweaping dan diserukan agar semua Mahasiswa dan Dosen terlibat dalam aksi penolakan kenaikan harga BBM. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke gedung DPRD, dimana aksi massa kembali membakar ban seperti pada aksi pertama. Sembari orasi dan membakar ban, terlihat pula beberapa aparatus kepolisian berjaga-jaga baik dengan mobil, motor, dan senjatanya. Akan tetapi tidak menyurutkan teriakan dan perlawanan massa aksi pada waktu itu. Tidak hanya membakar ban dan orasi politik, posko pengaduan rakyat juga dibukakan dan bentangan spanduk yang bertuliskan “Posko Penolakan Kenaikan Harga BBM” digelar di depan gedung DPRD, Poliwali Mandar.  

Kedepannya, “JGMK akan terus melakukan bentuk-bentuk perlawanannya dengan gerakan Rakyat, karena BBM bukan dibatalkan kenaikan harganya melainkan mengalami penundaan hingga enam bulan kedepan. Ditambah lagi Rancangan Undang-Undang Perguruan Tinggi/RUU PT yang sebentar lagi akan disahkan (April) oleh pemerintah yang sebagai bukti bahwa sektor pendidikan akan semakin diliberalisasikan. Maka kami menyerukan agar semua elemen masyarakat baik itu Buruh, Petani, Nelayan, Mahasiswa, perempuan bersatu untuk menghancurkan kekuasaan rejim neoliberalisme yang digengam oleh SBY-B. Hanya dengan persatuan maka rakyat dapat berada ditampuk kekuasaannya dengan menentukan sendiri arah politik dan ekonominya sendiri dalam cita – cita yang mulia di Negri ini”, ungkap Pay yang akrab disapa sebagai ketua dari JGMK.

Setelah BBM dibatalkan dari hasil sidang paripurna untuk enam bulan kedepan, massa aksi yang tergabung dalam Jaringan Gerakan Mahasiswa Kerakyatan diberbagai daerah kemudian mengakhiri aksi mereka dan mengatakan akan terus melakukan perlawanan hingga kemenangan pun tiba. (Daniel)

Aksi Nasional Jaringan Gerakan Mahasiswa Kerakyatan

Jumat, 11 November 2011

Kamis (10/11/12) organisasi Mahasiswa yang terjaring dalam Jaringan Gerakan Mahasiswa Kerakyatan (JGMK) melakukan aksi serentak di beberapa daerah, diantaranya Yogyakarta (Resista), Samarinda (Konsentrasi Mahasiswa Progresif), Sumbawa Besar (Barisan Pemuda dan Mahasiswa Progresif), Makkasar (Front Mahasiswa Demokratik), dan Poliwali Mandar (Sentral Gerakan Mahasiswa Progresif). Dalam aksi ini JGMK menyerukan agar momentum hari pahlawan ini bisa digunakan untuk membangun persatuan dalam menghancurkan rezim neoliberalisme pengkhianat Rakyat.

Di  Yogyakarta, organisasi gerakan Mahasiswa Resista yang tergabung dalam JGMK menggelar aksi damai dibunderan Universitas Gajah mada. Dalam orasinya, Daniel Pay Halim (ketua JGMK) mengungkapkan, “perjuangan Rakyat Indonesia adalah perjuangan yang tidak mudah didapatkan begitu saja, akan tetapi rezim SBY–Boediono saat ini telah menghianatinya dengan tidak mewujudkan kesejahteraan untuk Rakyat”.  Aksi ini ditandai dengan jalan mundur dan orasi mengelilingi bunderan UGM, Yogyakarta, sebagai simbolitas bahwa rejim SBY–Boedino agar segera mundur dari kursi pemerintahannya.

Dari Samarinda, puluhan Mahasiswa dari Konsentrasi Mahasiswa Progeresif juga menggelar sebuah aksi damai. Aksi ini ditandai dengan longmarch yang berjalan kaki sekitar lima kilometer membelah jantung kota Samarinda dari Kampus Universitas Mulawarman, Jl M. Yamin hingga taman makam pahlawan di Depan Balaikota Samarinda. Aksi longmarch tersebut juga diisi oleh simbolisasi dalam bentuk nisan kecil yang bergambarkan Marsinah, pahlawan Buruh perempuan Indonesia yang meninggal tanggal 8 Mei 1993 akibat kekejaman Rezim Militer, Petrus Ayakemba, Buruh PT Freeport yang juga meninggal di ujung senapan aparat Polri akibat aksi pemogokan buruh PT Freeport yang menuntut kenaikan upah 32 $/jam, dan gambar perjuangan Tani desa Makroman yang sedang berjuang mempertahankan lahanya dari penggusuran dan pembuangan limbah batu bara di lahan mereka, sepanjang perjalanan juga ditampilkan massa aksi yang berperan lengkap layaknya TNI dan Polri yang berjalan terus mengacungkan senjatanya kepada Buruh,Tani serta sesekali menodongkan senjatanya pada masyarakat. Hal tersebut dijadikan simbol oleh massa aksi sebagai perilaku Militer yang senantiasa menghamba pada kepentingan modal.

Di Sumbawa Besar, mahasiswa dari Barisan Pemuda dan mahasiswa Progresif menggelar aksi damai dalam bentuk konvoi keliling kota. Supratman (kordinator aksi), menyatakan, “kaum kapitalis masih leluasa dan bercokol di Negeri ini, secara tidak langsung, rakyat menjadi korban atas ulah mereka, rezim neolib SBY-Boediono, dan partai borjuis telah mengkhianati perjuangan para pejuang revolusi kemerdekaan” ujar Ucup, sapaan akrab Supratman. Selain itu, kata Ucup, “watak asli militer yang anti gerakan rakyat” terlihat, seperti, penembakan buruh PT.Freeport yang menuntut gaji yang layak pertahun, ini di luar dari cita-cita 10 november” jelas Ucup. Bahkan, tragisnya, sambung Ucup, dalam hal pendidikan pun pemerintah seakan-akan mulai lepas tangan, melalui paket rancangan undang-undang perguruan tinggi, “rancangan undang-undang perguruan tinggi tersebut, membuat pendidikan mahal dan sulit dijangkau oleh rakyat, cita-cita mereka dibunuh” sebut Ucup.

Dari Makkasar, mahasiswa dari Front Mahasiswa Demokratik membagi–bagikan selebaran di Jembatan layang (Play Over) Jl. Urip Sumorharjo, Makassar. Dalam selebaran tersebut tertulis bahwa “rakyat bersatu dan melawan segala bentuk rezim dan sistem neoliberalisme!”, perjuangan rakyat Indonesia yang dijajah oleh bangsa asing selama kurang lebih 350 tahun adalah perjuangan yang sangat panjang dan penuh dengan pertumpahan darah, jiwa dan raga mereka untuk mengusir Imprealisme di bumi Indonesia. Berdirinya orde baru hingga ke pemerintahan rejim SBY-Budiono gagal untuk mensejahterakan rakyatnya, penjualan aset negara (Freeport) telah menggeruk sumber daya alam Indonesia kepada pemilik modal dan juga merugikan rakyat pekerja dengan dikeluarkannya Undang – Undang 13 tahun 2003 yang menjadi alat legitimasi bagi pekerja dengan berupa kerja kontrak, outsourcing dan upah yang rendah bagi buruh. Pasca orde baru berkuasa, reformasi 1998, rezim Habibi, Gus Dur, Megawati dan SBY-Boediono tidak banyak membawa perubahan dan hanya menjadi perpanjangan tangan pemilik modal, dan pemerintah juga telah menggodok RUU PT yang menjadi pelepasan tanggung jawab Negara dalam pembiyaan pendidikan.

Dan terakhir di Polewali Mandar, organisasi dari Sentral Gerakan Mahasiswa Progresif juga turut membagikan selebaran, brosur, dan pamflet yang berisi sama seperti di daerah lain. Beberapa kampus yang dibagikan selebaran tersebut adalah UNASMAN, STIKES, STAI DDI, dan diakhiri di lapangan Pancasila, Poliwali Mandar.

Ketua JGMK, Daniel Pay Halim, yang akrab disapa Pay juga mengatakan bahwa aksi ini serentak dilakukan oleh gerakan Mahasiswa lokal yang tergabung dalam jaringan kita (JGMK) diberbagai daerah. Pay juga menegaskan bahwa “persoalan dibeberapa sektor hari ini terlihat terjadi penidasan, seperti Petani, Buruh, kesehatan yang mahal dan khususnya pendidikan yang menjadi sorortan utama kami, pendidikan sangat mahal, ditutupnya ruang demokratisasi kampus, DO dan Skorsing secara sepihak, sistem pendidikan yang menghamba pada pemilik modal dan tidak sesuai dengan realitas sosial masyarakat”. tandas Pay.

Dalam orasi dan yel–yel yang dikumadangkan mereka terdengar teriakkan “SBY-Budiono, Antek kaum modal, anti rakyat miskin!, Pendidikan gratis, ilmiah, demokratis dan berwatak kerakyatan!”. Pada akhir orasi, peserta aksi dari Yogyakarta mengatakan “kami dari Jaringan Gerakan Mahasiswa Kerakyatan yang terdiri dari organsasi gerakan Mahasiswa progresif revolusioner akan melakukan bentuk – bentuk perlawanan kami berikutnya terhadap penidasan di Negri ini hingga Rakyat menang!”.

Massa aksi yang tergabung dalam Jaringan Gerakan Mahasiswa Kerakyatan kemudian membubarkan diri dengan tenang dan diakhiri beberapa lantunan lagu perjuangan dari mereka.

Saatnya Gerakan Pemuda Bersatu Hancurkan Neoliberalisme

Minggu, 30 Oktober 2011

"Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia". Demikianlah ikrar yang di pekikan oleh pemuda/i Indonesia 28 Oktober 1928. Sebagai simbol persatuan yang melahirkan janji dan sumpah untuk bersatu - berbangsa, berbahasa, bertanah air satu, Indonesia. Sebuah moment sejarah yang dari tahun ke tahun di peringati dengan berbagai hal mulai dari upacara,aksi massa dan berbagai kegiatan lainya, untuk terus mengingatkan kita bahwa pemuda Indonesia telah bersepakat untuk menyatukan dirinya dalam barisan rakyat tertindas lainya menciptakan sebuah persatuan gerakan melawan segala bentuk penindasan.

Sebuah kesadaran yang menjadi pemersatu untuk membebaskan diri dari belenggu penjajah (neokolim) tanpa di pisahkan oleh sekat sekat agama,suku,ras,ideologi dan sebagainya. Semangat yang akan terus mengalir dalam raga pemuda Indonesia yang senantiasa meyakini persatuan gerakan yang meluas dan tidak mengerdilkan dirinya dalam perjuangan yang sektarian. Sebuah perjuangan panjang dan penuh pengorbanan yang akan bisa di tempuh dengan kesamaan pandangan akan pentingnya persatuan melawan Neoliberalisme yang menyebabkan pemiskinan masal 120 juta rakyat Indonesia.

Ditengah tengah ketertindasan oleh sistem Neoliberalisme yang termanifestasi dalam paket kebijakan Negara yang tidak pernah pro terhadap rakyat, kita, (pemuda) rakyat Indonesia. Dan kepentingan rezim neoliberalisme untuk senantiasa menancapkan taringnya di sendi sendi kehidupan dan mengilusi kesadaran pemuda mulai dari cara berpikir individualistik yang menjurus pada tindakan saling menindas, pengkotak kotakan pemuda hingga kembali menguatnya organisasi kedaerahan yang malah menciptakan jurang etnosentris yang tak jarang dimanfaatkan oleh elite elit politik yang mengatasnamakan rakyat demi kepntingan ekonomi dan politik praktis semata.

Sudah cukup kita terlena dalam aktivitas heroisme dan kecendrungan menjauhkan diri dari perjuangan massa rakyat pekerja yang juga memiliki kepentingan yang sama untuk menghancurkan neoliberalisme. Sehingga menjadi kebutuhan mendesak bagi kita kaum muda yang progresif untuk mulai merumuskan sebuah formulasi bersama dalam sebuah wadah yang berperpektif maju dalam upaya menghancurkan Neoliberalisme sebagai musuh bersama seluruh rakyat tertindas. Sebuah wadah tanpa di batasi sekat yang mengatasnamakan suku,agama dan ras. Karena sejatinya penindasan neoliberalisme tidak pernah memandang perbedaan jenis kelamin,suku,agama,ras.

Persatuan gerak adalah salah satu prasyarat awal dalam menyatukan seluruh elemen baik itu pemuda,mahasiswa,buruh,tani,dan kaum miskin kota dalam sebuah barisan massa rakyat yang terorganisir dalam membangun alat perjuangan politik di bawah panji Sosialisme.

Maka,kami dari Konsentrasi Mahasiswa Progresif menyerukan serta mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk :
  1. Menolak segala bentuk pemecah belahan persatuan gerakan rakyat baik berupa pengkotak kotakan dalam bentuk perbedaan jenis kelamin,suku,agama,ras dan sebagainya
  2. Rakyat Indonesia, pemuda,mahasiswa,baik kaum buruh, petani, nelayan, kaum miskin perkotaaan, dan rakyat miskin lainnya, untuk membangun serta menyatukan barisan dalam alat perjuangan politik rakyat tertindas dalam menghancurkan Neoliberalisme yang terbukti gagal mensejahtrakan rakyat.
Konsentrasi Mahasiswa Progresif

Samarinda, 28 Oktober 2011

Ketua
Solichul Hadi

Sekertaris Jendral
Marwono