Sekitar 750 massa aksi yang tergabung dalam SPBI-KASBI
Gresik turun ke jalan memperingati hari buruh Internasional 1 mei 2012. Aksi dimulai
di depan gerbang PT. Panalux Multi Top jam 7 pagi dan bergerak menuju Pemkab
Kab. Gresik. Aksi dimulai dengan blokade Jalan Manyar didepan gerbang Panalux selama
setengah jam. Hal ini dilakukan karena hingga saat ini pihak pengusaha Panalux
belum mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan persoalan normatif buruh
Panalux dan pihak Pengawasan Disnaker pun terkesan lamban dalam menindak
lanjuti pelanggaran hak-hak normatif yang telah dilaporkan SPBI-KASBI sejak
tahun 2010. Massa bergerak dengan berkonvoi, kemudian sesampai di PT. Liku Telaga
massa turun dari kendaraan dan berjalan kaki dengan membawa spanduk yang
berisikan tuntutan dan poster. SPBI-KASBI gresik dengan tegas menolak sistem
kerja kontrak dan out sourcing. Massa aksi berjalan kaki hingga PT Karunia Alam
Segar penghasil Mie Sedap, sesampai di pertigaan Tenger, massa kembali menaiki
kendaraan dan bergerak menuju perempatan Petrokimia dan sesampai di PT. Bintang
Pelajar massa kembali berjalan hingga tepat di tengah-tengah perempatan Petro
dan melakukan blokade jalan selama 1 jam. Dan kembali bergerak menuju ke
perlimaan Petrokimia dan melakukan blokade lagi setengah jam. Kemudian bergerak
menuju ke perempatan kebomas menuju ke Indro dan melewati PT. Wilmar nabati.
Dan menuju ke kawasan industri segoro madu kemudian menuju Pemkab. Tiba di
pemkab jam 12.30 siang hari.
Tampilkan postingan dengan label KASBI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KASBI. Tampilkan semua postingan
Buruh Gresik Merayakan Hari Buruh Internasional
Selasa, 15 Mei 2012
Categories :
Berita Aksi,
Gresik,
KASBI
Lawan Kapitalisme - Imperialisme, Naikan Upah Buruh, Tanah - Pendidikan dan Kesehatan Gratis, Rakyat Tolak Kenaikan Harga BBM
Perjuangan untuk melawan penindasan sejatinya tidak lagi terkotak kotak
dan mengangkat isu isu sektoral semata (contohnya; buruh berjuang untuk
kepentingan atau isu yang berkaitan dengan buruh saja, tani berjuang untuk
kepentingan pertanian saja, mahasiswa berjuang untuk kepentingan pendidikan
saja, kaum miskin kota berjuang untuk kesejahteraan kaum miskin kota saja) tetapi
semua sector rakyat tersebut baik Buruh, Tani, Mahasiswa, Kaum Miskin kota
harus bersatu dan berjuang bersama sama merebut demokrasi untuk tatanan
kehidupan yang lebih baik.
Sebagaimana kita ketahui 1
Mei atau yang
lebih dikenal dengan istilah M Day atau HARI BURUH SEDUNIA merupakan hari bersejarah dan kemenangan bukan hanya bagi buruh tetapi seluruh umat manusia di dunia karena telah terjadi
perbaikan sistem tatanan kehidupan yang lebih baik. Maka KONSOLIDASI BURUH RAKYAT INDONESIA (KBRI) yang beranggotan KPO PRP
MEDAN, KASBI Sumut, PPBI Medan, SPCI, SEKAR WILMAR, PPRM
Sumut, Perempuan Mahardhika Sumut, L-Kesra Pusat, GEMADEN, BARMAS, F D M, I M M, BEM FE UMA, L M I, PARI, KIRAB,
GN GAK HAM, ICMI Muda Sumut, Kelompok Petani 71-79, HPPLKN, Kelompok Tani Selambo,
Jas Merah, Kelompok Maju Bersama Rakorba,) bersama sama melakukan aksi
turun ke jalan pada tanggal 01 Mei 2012 untuk merayakan M Day tidak seperti
kebanyakan elemen/organ dan serikat buruh yang ada di Sumut yang lebih memilih
untuk berjoget ria di lapangan Merdeka Medan bersama pemerintahan Sumut.
Kita menyadari belum saatnya kita berjoget ria merayakan M Day sementara
Rakyat (buruh, Tani, Mahasiswa dan Kaum Miskin
Kota) masih tertindas karena belum mendapatkan
kehidupan yang layak di negeri ini bahkan masih harus diperhadapkan dengan rencana
pemerintah untuk menaikkan BBM dan mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, buruh dieksploitasi
dengan polotik
upah murah, sitem kerja kontrak dan outsorching bahkan harian Lepas (harlep), union busting (pemberangusan serikat), PHK sepihak
dan semena mena oleh perusahaan, tidak adanya jaminan untuk buruh migran, dan
masih banyak lagi persoalan rakyat lainnya lainnya.
Aksi turun ke jalan KONSOLIDASI
BURUH RAKYAT INDONESIA (KBRI) mengangkat Grand Isu
“LAWAN
KAPITALISME – IMPERIALISME, NAIKAN
UPAH BURUH, TANAH
– PENDIDIKAN & KESEHATAN GRATIS UNTUK DAN RAKYAT
TOLAK KENAIKAN HARGA BBM” dan menuntut :
- Buruh :
1. Tetapkan 1 Mei menjadi hari libur nasional
2.
Tolak
& hapus outsorching, sistem kerja kontrak, harian lepas.
3.
Hentikan
dan lawan pemberangusan serikat buruh (union busting).
4.
Implementasikan
hak-hak buruh perempuan.
5.
Lawan
politik upah murah.
6.
Bubarkan
dewan pengupahan daerah dan bentuk dewan pegupahan daerah yang independen yang
benar-benar pro terhadap nasib buruh B. Tani
:
- Tani :
1. Tanah untuk rakyat, bukan untuk kaum pemodal
(pengusaha).
2.
Kembalikan
& distribusikan tanah yang dirampas oleh perkebunan negara (PTPN),
perkebunan swasta & perkebunan asing.
3.
Turunkan
harga pupuk & alat-alat pertanian.
4.
Wujudkan
agibisnis dan agro industri yang baik bagi pertanian rakyat.l
5.
Tangkap
& adili preman serta mafia tanah
(Usman alias Akiong, Anto keing, Tamin Sukardi, Mujianto, Alex Ketaren,
Samsul Sianturi) yang merampas & memperjual-belikan tanah negara Eks HGU
PTPN II.
6.
Tolak jual
beli bangunan dan tanah eks HGU PTPN II di wilayah Helvetia, Marendal I, Dagang
Kerawan, Selambo & Pagar Merbau.
7.
Realisasikan
tim penyuluh pertanian di berbagai daerah.
8.
Kembalikan
tanah rakyat yang dirampas perkebunan negara PTP IX – PTPN II Pagar Merbau dari
tahun 1965 yang berada di Pasar 9 gg. Tebu Pasar Miring Deli Serdang.
9.
Selesaikan
segera ganti rugi atas tanah masyarakat Desa Naga Kesiangan seluas 254,33 Ha,
Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Serdang Bedagai Vs PTPN IV.
10. Usut tuntas pelaku penganiayaan, pengeroyokan,
pemukulan dan penculikan terhadap Syaifal Bahri yang dilakukan Jurek Cs.
11. Bebas murnikan Eko Sofianto, Senja dkk yang
telah dikriminalisasi oleh mafia tanah (Anto Keling).
12. Hentikan kriminalisasi terhadap kaum tani
- Mahasiswa :
1. Tolak Komersialisasi & Privatisasi
pendidikan.
2.
Wujudkan
pendidikan gratis, ilmiah, demokratis dan bervisi kerakyatan.
3.
Tolak RUU
Perguruan Tinggi (RUU PT).
4.
Realisasikan
20% anggaran pendidikan dari APBN & APBD.
5. Berikan hak dan kebebasan untuk berorganisasi
di dalam kampus.
- Kesehatan :
1. Realisasikan kesehatan gratis, layak,
berkualitas & bertekhnologi modern untuk rakyat.
2.
Tolak
JPKMS & berlakukan Jaminan Kesehatan di daerah yang setara dengan
JAMKESMAS.
3. Tutup izin operasional rumah sakit yang
menolak dan menelantarkan pasien miskin.
- Perempuan :
1. Hentikan kekerasan, intimidasi, pemerkosaan
& pelecehan seksual terhadap kaum perempuan.
2.
50 %
kuota bagi perempuan di lapangan publik.
3. Perempuan keluar rumah – bangun organisasi
perempuan yang progressif, mandiri & militan.
- Umum :
1. Turunkan harga sembako.
2.
Perumahan
murah, layak, berkualitas & air bersih untuk rakyat.
3.
Usut
tuntas pelaku pelanggaran HAM dari peristiwa
65,Malari,Tg.PrioK,Semanggi,Trisakti,dsbnya.
4.
Bangun
kembali tempat ibadah/Masjid yang dirusak oleh kaum pemodal/pengusaha.
5.
Usut
tuntas oknum TNI yang melakukan pemukulan terhadap wartawan pada saat meliput
aksi Komite Tani Menggugat di depan Kantor Pos Medan.
6.
Usut
tuntas pembubaran paksa aksi Komite Tani Menggugat yang dilakukan TNI pada saat
kedatangan Wakil Presiden Boediono.
7.
Bubarkan
Komando Teritorial & kembalikan TNI ke Barak.
Aksi dimulai dengan melakukan
Sweeping di Carrefour Medan Citra Padang Bulan dan Carrefour Medan Fair untuk
mengajak kawan kawan buruh turun bersama ke jalan merayakan M day, kemudian massa
aksi berkumpul dan melakukan orasi di depan Stasion TVRI Medan kemdian bergerak
menuju Lapangan merdeka Medan untuk mengkampayekan bahwa tidak saatnya M Day
dirayakan dengan berjoget ria dengan pemerintah karena kondisi rakyat dengan
pemerintah saat ini adalah bagaikan air dengan minyak yang tidak bisa menyatu
yang mana kebijakan pemerintah belum mampu membuat rakyat sejahtera dan banyak
produk hukum di negeri ini yang belum berpihak kepada rakyat maka M Day adalah
moment bagi kita untuk berjuang menuntut kesejateraan rakyat.
Dari lapangan Merdeka Medan,
massa aksi bergerak menuju Plaza Uniland dan memblokade jalan di pusat Kapitalisme,
Imprealisme dan Neoliberalisme di kota Medan tersebut sehingga mengakibatkan
kemacetan panjang dan setelah melakukan orasi dan bakar ban kemudian massa aksi
bergerak menuju kediaman Konjen Amerika yang berada di jalan Walikota Medan, di
depan kediaman Konjen Amerika Medan massa aksi kembali melakukan orasi dan aksi
bakar ban, boneka monyet yang merupakan simbol bahwa rejim yang berkuasa saat
ini adalah boneka Negara barat khususnya Amerika, dan tanpa di duga aparat
kepolisian yang awalnya hanya beberapa orang tiba tiba bertambah banyak dan
memadamkan sisa ban yang dibakar massa aksi. Dari Kediaman Konjen Amerika massa
aksi membubarkan diri dan pulang ke rumah masing masing.
Sosialisme adalah jalan sejati pembebasan Rakyat Pekerja dan Seruan
kepada semua sektor rakyat; buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota mari
bersatu bangun partai kelas pekerja, agar kesejateraan pun menjadi milik
bersama.
Categories :
Berita Aksi,
KASBI,
Medan,
Peburuhan,
Statement
Kaum Buruh dan Rakyat Bersatu: Lawan Kapitalisme dan Imperialisme!
Pada Peringatan Hari Buruh Sedunia Tahun 2012
Pada
hari ini, tanggal 1 Mei 2012, bertepatan dengan peringatan hari buruh sedunia,
kami dari Sekretariat Bersama (Sekber) Buruh Jabodetabek, kembali turun ke jalan.
Agenda aksi ini kami laksanakan sebagai bentuk protes, sekaligus sebagai wujud
tanggung jawab kami dalam menyebarluaskan keyakinan bahwa mayoritas rakyat di
negeri tercinta ini masih hidup dalam kesengsaraan. Pemerintah boleh saja
berkata bahwa terjadi pertumbuhan ekonomi, terjadi peningkatan klas menengah
dan lain sebagainya.
Namun
kenyataannya, kami menemui
fakta dan data yang menggambarkan situasi sebaliknya.
Terdapat
kurang lebih 12,5% penduduk yang berpenghasilan sekitar Rp. 233.740,- saja per
bulan dan hanya terdapat 1,5% penduduk yang berpenghasilan diatas Rp.
3.000.000,- per bulan.
Padahal
menurut hitungan kami, paling tidak untuk saat ini, tingkat upah minimal kaum
buruh harus berkisar di angka tersebut. Angka pengangguran terbuka di Indonesia
juga masih sangat tinggi, yaitu 7,7
juta orang dari 117,37 juta orang angkatan kerja di Indonesia, dimana 5,3
jutanya adalah usia muda (15-29 tahun).
Dari
jumlah orang yang bekerja pun (109,67 juta orang), sepertiganya (34,59 juta
orang) merupakan
orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu.
Angka-angka
diatas, dari tahun ke tahun tidak banyak mengalami kemajuan, bahkan sebaliknya,
kondisi kehidupan rakyat justru semakin terpuruk. Obat liberalisasi yang selalu
digembar-gemborkan dapat mensejahterakan rakyat ternyata tidak pernah terbukti.
Sejak abad ke-16, Indonesia adalah wilayah yang menjadi sasaran eksploitasi
bangsa Eropa, dimana kekayaan
alamnya dikeruk, tenaga kerjanya dihisap untuk kemajuan dan kemegahan “Barat”. Itulah mengapa, saat ini, “Barat” lebih memiliki syarat (kapital)
untuk membangun negaranya. Sementara Indonesia, sepeninggalan Barat tidak
memiliki industri apapun untuk mampu membangun kapitalnya. Padahal untuk dapat
membangun kapital, dibutuhkan produktivitas
nasional yang tinggi, dan karenanya
dibutuhkan industrialisasi. Di
Indonesia,
dari 100-an juta angkatan kerja, sekitar 99,5%-nya bekerja di sektor usaha
kecil dengan jumlah pekerja kurang dari 500 orang. Hal tersebut menggambarkan betapa
tidak produktifnya perekonomian yang dirancang pemerintah, dimana perekonomian skala kecil
tidaklah
mungkin dapat meningkatkan kapital dalam
mengejar ketertinggalannya.
Pemerintah
memang dapat berutang kelembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF,
World Bank atau ADB untuk mendapatkan kapital. Namun, bukan obat yang diterima
bangsa Indonesia dengan berutang kelembaga-lembaga tersebut, melainkan racun, dikarenakan lembaga-lembaga yang di
sponsori negara-negara imperialis tersebut tidak pernah benar-benar tulus membantu
mengatasi keterbelakangan ekonomi Indonesia,
melainkan
sebaliknya,
pinjaman-pinjaman yang mereka berikan memiliki maksud untuk mengeksploitasi sumber
daya Indonesia lebih
dalam lagi. Perekonomian Indonesia dipaksa untuk dibuka lebih lebar kepada
modal asing, kekayaan alamnya dipaksa untuk rela dikeruk habis, tenaga kerjanya
dipaksa untuk patuh kepada keinginan modal lewat sistem tenaga kerja yang fleksibel, murah dan “penurut”. Subsidi-subsidi untuk rakyat
sedikit demi sedikit harus dikurangi agar tidak menggangu keuangan negara dan
lain sebagainya.
Pendeknya,
bidang ekonomi harus bergerak sebebas bebasnya sesuai kemauan pasar, tidak
boleh ada pembatasan apapun.
Sementara
dalam bidang politik, negara harus lebih banyak berperan untuk menjamin
keamanan modal, rakyat harus diatur kebebasannya agar tidak mengganggu
keuntungan.
Sudah
sangat terang dimata kami, apa yang pemerintah kehendaki dari kami. Pemerintah hanya mau melayani
orang kaya dengan bantuan para “budak” seperti kami, sehingga semakin
sukseslah roda ekonomi untuk terus dapat bergerak dikalangan orang-orang
berduit, sementara
hidup kami semakin susah. Saat subsidi
BBM dicabut, kamilah yang paling menanggung akibatnya, sementara para orang
kaya, yang
sebelumnya mengeksploitasi kami, dengan mudah dapat membeli BBM tanpa subsidi. Biaya pendidikan
sampai universitas
sangat mahal
bagi kami, sehingga
anak-anak kami tidak mampu sekolah, sementara orang kaya, yang sebelumnya
mengeksploitasi kami, dengan mudah dapat membayar uang SPP-nya. Biaya rumah sakit mahal, sehingga kami tidak
mampu berobat, sementara para orang kaya, yang
sebelumnya mengeksploitasi kami, dengan mudah dapat membayar rumah sakit. Bahkan yang lebih menyakitkan,
fasilitas klinik, tenaga medis, obat-obatan dan lain sebagainya yang
diperuntukkan bagi
kepentingan rakyat tidak pernah diperhatikan, sehingga sangat sering kami
mendengar pasien miskin, terutama yang berada dipelosok, akhirnya meninggal
dunia karena ketiadaan tenaga medis, sementara para orang kaya, yang sebelumnya
mengeksploitasi kami, dengan mudah dapat berobat ke seluruh rumah sakit terbaik
dimanapun didunia.
Kami
juga dapat melihat, apa yang pemerintah produksi buat bangsa ini, barang-barang
yang tidak kami perlukan.
Kami
tidak memerlukan mobil-mobil sedan yang hanya memboroskan cadangan bahan bakar
diperut bumi, dan memacetkan jalan-jalan, yang kami butuhkan adalah
transportasi massal yang modern dan murah, agar kami tidak selalu bertaruh
nyawa ketika akan berangkat atau pulang bekerja karena harus menggunakan roda
dua atau bergelantungan di kereta atau bis yang tidak laik jalan. Ya, kami sudah
belajar dan mengetahuinya,
bahwa PDB negara ini hanya “digerakan” oleh sekolompok orang saja. Hal ini setidaknya ditunjukan dari indikator
komposisi kepemilikan rekening
masyarakat di industri perbankan nasional, dimana 50% dana pihak ketiga (DPK) perbankan hanya dimiliki tak sampai 1% pihak, dan sisanya yang 50% lagi dimiliki oleh 99% kelompok
masyarakat. Singkatnya
APBN yang berhasil diraih pemerintah dari PDB sebesar Rp 1.300 milyar yang
selama ini digunakan untuk membiayai pembangunan, yang katanya dibebani beban yang
sangat berat untuk mensubsidi rakyat, harus ditambah, karena selain rasio
tersebut masih terlalu kecil (hanya
20%) dibandingkan
dengan Amerika (35%) atau Perancis (56%), pemerintah juga harus
menciptakan kesejahteraan kami, agar terjadi pemerataan, dengan menaikkan pajak
dari para orang kaya.
Saat ini kami menyadari
bahwa perekonomian tidak boleh lagi disusun dalam skenario liberal yang mengabdi pada pasar dan
tunduk pada modal.
Perekonomian
seperti itu tidak akan sanggup membawa kesejahteraan kepada kami, tidak mampu
meningkatkan tenaga produktif kami,
dan tidak mampu membangun industri nasional yang kokoh. Perekonomian haruslah
direncanakan agar dapat semakin mengarah kepada kebaikan bagi mayoritas rakyat,
dan agar arah itu semakin benar, maka demokrasi bagi rakyat harus dibuka seluas-luasnya. Rakyat harus bersama-sama diberi
kesempatan untuk menentukan kemana arah ekonominya. Untuk itu, jangan bungkam mulut
rakyat dengan segala bentuk peraturan yang membatasi kebebasannya.
Inilah sikap kami, saat
ini kami menuntut selantang-lantangnya bahwa:
1.
Kami
menuntut jaminan kepastian atas status kerja, sistem kerja kontrak dan
outsorcing, akan memudahkan kami untuk di PHK,
semakin terhisap dan semakin mudah dirampas hak-haknya.
2.
Kami menolak politik upah murah, dan
menuntut dicabutnya Permenaker No.17/2005 tentang 46 Komponen KHL yang sudah tidak
lagi mampu menjawab kebutuhan hidup layak dalam arti sebenar-benarnya.
3.
Kami menolak pencabutan subsidi BBM, naiknya
harga BBM hanya akan menguntungkan perusahaan-perusahaan minyak asing,
sementara bagi kaum buruh dan keseluruhan rakyat bahwa kenaikan harga BBM hanya
akan membuat kehidupan rakyat semakin sengsara.
4.
Kami menolak dan akan melawan setiap
bentuk perampasan tanah rakyat oleh negara
dan korporasi, karena merampas tanah kaum tani berarti mendorong kaum tani
kejurang kematiannya.
5.
Kami menuntut pendidikan gratis, pendidikan nasional tidak boleh di liberalisasi,
pendidikan nasional adalah hak bagi suluruh rakyat untuk memajukan
tenaga produktif dan peradabannya dan dapat membebaskan dari ketertindasan kaum
pemilik modal. Maka pendidikan harus
gratis, ilmiah dan bervisi kerakyatan.
6.
Dalam soal demokratisasi, kami
menuntut pencabutan segala produk undang-undang anti demokrasi, yaitu UU
Intelijen, UU Penanganan Konflik
Sosial, dan undang-undang yang saat ini sedang dalam tahap pembahasan, yaitu UU
Kamnas.
Selain itu, kami juga menyerukan kepada seluruh elemen
gerakan rakyat untuk menggelorakan persatuan gerakan demi perwujudan kekuatan
politik alternatif yang anti kapitalisme dan anti imperialisme.
SEKBER BURUH
JABODETABEK:
KASBI, SBTPI, FPBJ, SBIJ, PPBI, FSPOI, SPTBG,
Gesburi, FKI PT Topan, FSPMI Suzuki, SBMI,
Front Jak, KSBSI Jakarta, KSBSI Tangerang, AJI, SPKAJ, FP.OHT, SBM Gasbindo,
SP
JICT, IKAPPI, IBU, SMI, PEMBEBASAN, PMKRI, JMK, LMND, KMJ, KPOP, SEBUMI, FPPI,
Rakber, PI, Perempuan
Mahardhika, KPA, LBH Jakarta,
PPI, PPR, KPO-PRP.
Jakarta, 30 April 2012
Humas
Presidium Sekber Buruh:
1.
Ilhamsyah : 081219235552
2.
Sultoni : 087878725873 / merahdihati@ymail.com
3.
John : 081388462534 / jon_merdeka@yahoo.com
4.
Surya : 0815-743-043-91 / suryanta@gmail.com
5.
Adhi W : 081389651948
/ adinesia@yahoo.fr
LAWAN KAPITALISME DAN IMPERIALISME
BURUH BERKUASA, RAKYAT SEJAHTERA
Categories :
KASBI,
Perburuhan,
Statement
Langganan:
Postingan (Atom)

