Sekitar 750 massa aksi yang tergabung dalam SPBI-KASBI
Gresik turun ke jalan memperingati hari buruh Internasional 1 mei 2012. Aksi dimulai
di depan gerbang PT. Panalux Multi Top jam 7 pagi dan bergerak menuju Pemkab
Kab. Gresik. Aksi dimulai dengan blokade Jalan Manyar didepan gerbang Panalux selama
setengah jam. Hal ini dilakukan karena hingga saat ini pihak pengusaha Panalux
belum mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan persoalan normatif buruh
Panalux dan pihak Pengawasan Disnaker pun terkesan lamban dalam menindak
lanjuti pelanggaran hak-hak normatif yang telah dilaporkan SPBI-KASBI sejak
tahun 2010. Massa bergerak dengan berkonvoi, kemudian sesampai di PT. Liku Telaga
massa turun dari kendaraan dan berjalan kaki dengan membawa spanduk yang
berisikan tuntutan dan poster. SPBI-KASBI gresik dengan tegas menolak sistem
kerja kontrak dan out sourcing. Massa aksi berjalan kaki hingga PT Karunia Alam
Segar penghasil Mie Sedap, sesampai di pertigaan Tenger, massa kembali menaiki
kendaraan dan bergerak menuju perempatan Petrokimia dan sesampai di PT. Bintang
Pelajar massa kembali berjalan hingga tepat di tengah-tengah perempatan Petro
dan melakukan blokade jalan selama 1 jam. Dan kembali bergerak menuju ke
perlimaan Petrokimia dan melakukan blokade lagi setengah jam. Kemudian bergerak
menuju ke perempatan kebomas menuju ke Indro dan melewati PT. Wilmar nabati.
Dan menuju ke kawasan industri segoro madu kemudian menuju Pemkab. Tiba di
pemkab jam 12.30 siang hari.
Tampilkan postingan dengan label Berita Aksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Aksi. Tampilkan semua postingan
Buruh Gresik Merayakan Hari Buruh Internasional
Selasa, 15 Mei 2012
Categories :
Berita Aksi,
Gresik,
KASBI
Datangi DPRD, Ribuan Massa KASBI Tuntut Hapuskan Sistem Kerja Kontrak dan Outsourcing
Satu Mei selalu
menjadi hari yang bersejarah bagi kaum buruh di dunia. Hari dimana perjuangan
kaum buruh kembali dikumandangkan manakala tuntutan-tuntutan normative buruh
yang sejak satu abad lalu disuarakan ternyata belum semua terpnuhi saat ini.
Di Prambanan,
Klaten sejak pukul 06.00 WIB massa Serikat Pekerja SC Enterprises, KASBI melakukan sweeping di depan pabrik PT SC Enterprises. Sweeping dilakukan
oleh puluhan anggota Barisan Merah (BARA) KASBI yang menjaga gerbang pabrik
agar para buruh tidak masuk kerja dan berkumpul di halaman pabrik. Lebih dari
seribu buruh kemudian berhasil dikumpulkan dan semuanya menyetujui untuk tidak
masuk kerja dan bergabung dengan massa aksi. Dengan penuh semangat, para buruh
yang mayoritas perempuan muda ini ikut mendengarkan orasi-orasi dan meneriakkan
yel-yel di depan pabrik. Beberapa diantaranya menggelar poster berisi
tuntutan, seperti “Hapuskan Sistem Kerja dan Outsourcing”, “Bayarkan Upah
Lembur”. Semangat yang luar biasa
dari para buruh salah satunya dikarenakan perusahaan sampai saat ini tidak
memenuhi tuntutan para buruh yang sejak bulan April disuarakan bahkan sudah
melewati bipartite namun perusahaan belum melaksanakan hasil bipartite
tersebut.
Sekitar pukul
08.00 WIB, massa kemudian mulai bergerak meninggalkan pabrik menggunakan
ratusan sepeda motor dan 2 buah truk. Massa melakukan konvoi menuju Gedung DPRD
Klaten. Konvoi seribu buruh ini mendapat perhatian dari seluruh masyarakat yang
berada di sepanjang jalan. Sesampai di Gedung DPRD, 11 perwakilan dari SP SC
Enterprises dan KASBI kemudian masuk ke dalam untuk melakukan audiensi dengan
Komisi IV DPRD Kab Klaten.
Dalam audiensi
yang juga dihadiri oleh Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kab Klaten,
perwakilan buruh menyampaikan surat aduan terkait pelanggaran hokum yang
dilakukan oleh manajemen PT SC Enterprises. Beberapa bentuk pelanggaran hokum
yang diadukan antara lain; perusahaan melakukan pemaksaan terhadap buruh untuk
lembur dan tanpa dibayar sesuai aturan di Undang-undang, perusahaan melarang
buruh berserikat, perusahaan memberlakukan sistem kerja kontrak padahal dilihat
dari jenis dan sifat produksi seharusnya PT SC enterprises tidak menggunakan
sistem kerja kontrak. Selama kurang lebih 1 jam melakukan audiensi akhirnya
Komisi IV mengambil keputusan akan memanggil manajemen PT SC Enterprises untuk
mengklarifikasi aduan dari SP SC Enterprises.
Dari Gedung DPRD
Klaten, ribuan massa
dengan dikawal kepolisian melanjutkan perjalanan dengan konvoi sepeda motor dan
truk menuju Yogyakarta untuk
bergabung dengan massa Komite Rakyat Bersatu yang sudah menunggu di parkiran MC
Donald Yogyakarta.
Selain dari Prambanan, serikat anggota buruh KASBI yang lain
yaitu Serikat Pekerja Carrefour Indonesia (SPCI) cabang Ambarukmo Plaza dan
Serikat Buruh Jaya Readymix (SBJR) memulai aksi Hari Buruh di depan Ambarukmo
Plaza. Pukul 09.00 WIB, massa mulai melakukan orasi di depan Ambarukmo Plaza.
Beberapa hal yang disampaikan antara lain mengenai tuntutan SPCI untuk
melakukan Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Setelah dua jam orasi, massa SPCI dan
SBJR kemudian konvoi menuju Mc Donald dan bergabung dengan massa Komite Rakyat
Bersatu untuk selanjutnya menunggu massa KASBI dari Klaten.
Sekitar pukul 12.00 WIB, seluruh massa Komite Rakyat Bersatu
sudah berkumpul di Parkiran Mc Donald dan kemudian berbaris rapi untuk
melanjutkan aksi dengan long march menuju Titik Nol Km Yogyakarta. Barisan
terdepan, sekitar 15 pasukan BARA KASBI menjadi barisan pelopor, diikuti oleh
barisab spanduk, barisan bendera dan diikuti massa aksi.
Categories :
Berita Aksi,
Yogyakarta
Lawan Kapitalisme - Imperialisme, Naikan Upah Buruh, Tanah - Pendidikan dan Kesehatan Gratis, Rakyat Tolak Kenaikan Harga BBM
Perjuangan untuk melawan penindasan sejatinya tidak lagi terkotak kotak
dan mengangkat isu isu sektoral semata (contohnya; buruh berjuang untuk
kepentingan atau isu yang berkaitan dengan buruh saja, tani berjuang untuk
kepentingan pertanian saja, mahasiswa berjuang untuk kepentingan pendidikan
saja, kaum miskin kota berjuang untuk kesejahteraan kaum miskin kota saja) tetapi
semua sector rakyat tersebut baik Buruh, Tani, Mahasiswa, Kaum Miskin kota
harus bersatu dan berjuang bersama sama merebut demokrasi untuk tatanan
kehidupan yang lebih baik.
Sebagaimana kita ketahui 1
Mei atau yang
lebih dikenal dengan istilah M Day atau HARI BURUH SEDUNIA merupakan hari bersejarah dan kemenangan bukan hanya bagi buruh tetapi seluruh umat manusia di dunia karena telah terjadi
perbaikan sistem tatanan kehidupan yang lebih baik. Maka KONSOLIDASI BURUH RAKYAT INDONESIA (KBRI) yang beranggotan KPO PRP
MEDAN, KASBI Sumut, PPBI Medan, SPCI, SEKAR WILMAR, PPRM
Sumut, Perempuan Mahardhika Sumut, L-Kesra Pusat, GEMADEN, BARMAS, F D M, I M M, BEM FE UMA, L M I, PARI, KIRAB,
GN GAK HAM, ICMI Muda Sumut, Kelompok Petani 71-79, HPPLKN, Kelompok Tani Selambo,
Jas Merah, Kelompok Maju Bersama Rakorba,) bersama sama melakukan aksi
turun ke jalan pada tanggal 01 Mei 2012 untuk merayakan M Day tidak seperti
kebanyakan elemen/organ dan serikat buruh yang ada di Sumut yang lebih memilih
untuk berjoget ria di lapangan Merdeka Medan bersama pemerintahan Sumut.
Kita menyadari belum saatnya kita berjoget ria merayakan M Day sementara
Rakyat (buruh, Tani, Mahasiswa dan Kaum Miskin
Kota) masih tertindas karena belum mendapatkan
kehidupan yang layak di negeri ini bahkan masih harus diperhadapkan dengan rencana
pemerintah untuk menaikkan BBM dan mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, buruh dieksploitasi
dengan polotik
upah murah, sitem kerja kontrak dan outsorching bahkan harian Lepas (harlep), union busting (pemberangusan serikat), PHK sepihak
dan semena mena oleh perusahaan, tidak adanya jaminan untuk buruh migran, dan
masih banyak lagi persoalan rakyat lainnya lainnya.
Aksi turun ke jalan KONSOLIDASI
BURUH RAKYAT INDONESIA (KBRI) mengangkat Grand Isu
“LAWAN
KAPITALISME – IMPERIALISME, NAIKAN
UPAH BURUH, TANAH
– PENDIDIKAN & KESEHATAN GRATIS UNTUK DAN RAKYAT
TOLAK KENAIKAN HARGA BBM” dan menuntut :
- Buruh :
1. Tetapkan 1 Mei menjadi hari libur nasional
2.
Tolak
& hapus outsorching, sistem kerja kontrak, harian lepas.
3.
Hentikan
dan lawan pemberangusan serikat buruh (union busting).
4.
Implementasikan
hak-hak buruh perempuan.
5.
Lawan
politik upah murah.
6.
Bubarkan
dewan pengupahan daerah dan bentuk dewan pegupahan daerah yang independen yang
benar-benar pro terhadap nasib buruh B. Tani
:
- Tani :
1. Tanah untuk rakyat, bukan untuk kaum pemodal
(pengusaha).
2.
Kembalikan
& distribusikan tanah yang dirampas oleh perkebunan negara (PTPN),
perkebunan swasta & perkebunan asing.
3.
Turunkan
harga pupuk & alat-alat pertanian.
4.
Wujudkan
agibisnis dan agro industri yang baik bagi pertanian rakyat.l
5.
Tangkap
& adili preman serta mafia tanah
(Usman alias Akiong, Anto keing, Tamin Sukardi, Mujianto, Alex Ketaren,
Samsul Sianturi) yang merampas & memperjual-belikan tanah negara Eks HGU
PTPN II.
6.
Tolak jual
beli bangunan dan tanah eks HGU PTPN II di wilayah Helvetia, Marendal I, Dagang
Kerawan, Selambo & Pagar Merbau.
7.
Realisasikan
tim penyuluh pertanian di berbagai daerah.
8.
Kembalikan
tanah rakyat yang dirampas perkebunan negara PTP IX – PTPN II Pagar Merbau dari
tahun 1965 yang berada di Pasar 9 gg. Tebu Pasar Miring Deli Serdang.
9.
Selesaikan
segera ganti rugi atas tanah masyarakat Desa Naga Kesiangan seluas 254,33 Ha,
Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Serdang Bedagai Vs PTPN IV.
10. Usut tuntas pelaku penganiayaan, pengeroyokan,
pemukulan dan penculikan terhadap Syaifal Bahri yang dilakukan Jurek Cs.
11. Bebas murnikan Eko Sofianto, Senja dkk yang
telah dikriminalisasi oleh mafia tanah (Anto Keling).
12. Hentikan kriminalisasi terhadap kaum tani
- Mahasiswa :
1. Tolak Komersialisasi & Privatisasi
pendidikan.
2.
Wujudkan
pendidikan gratis, ilmiah, demokratis dan bervisi kerakyatan.
3.
Tolak RUU
Perguruan Tinggi (RUU PT).
4.
Realisasikan
20% anggaran pendidikan dari APBN & APBD.
5. Berikan hak dan kebebasan untuk berorganisasi
di dalam kampus.
- Kesehatan :
1. Realisasikan kesehatan gratis, layak,
berkualitas & bertekhnologi modern untuk rakyat.
2.
Tolak
JPKMS & berlakukan Jaminan Kesehatan di daerah yang setara dengan
JAMKESMAS.
3. Tutup izin operasional rumah sakit yang
menolak dan menelantarkan pasien miskin.
- Perempuan :
1. Hentikan kekerasan, intimidasi, pemerkosaan
& pelecehan seksual terhadap kaum perempuan.
2.
50 %
kuota bagi perempuan di lapangan publik.
3. Perempuan keluar rumah – bangun organisasi
perempuan yang progressif, mandiri & militan.
- Umum :
1. Turunkan harga sembako.
2.
Perumahan
murah, layak, berkualitas & air bersih untuk rakyat.
3.
Usut
tuntas pelaku pelanggaran HAM dari peristiwa
65,Malari,Tg.PrioK,Semanggi,Trisakti,dsbnya.
4.
Bangun
kembali tempat ibadah/Masjid yang dirusak oleh kaum pemodal/pengusaha.
5.
Usut
tuntas oknum TNI yang melakukan pemukulan terhadap wartawan pada saat meliput
aksi Komite Tani Menggugat di depan Kantor Pos Medan.
6.
Usut
tuntas pembubaran paksa aksi Komite Tani Menggugat yang dilakukan TNI pada saat
kedatangan Wakil Presiden Boediono.
7.
Bubarkan
Komando Teritorial & kembalikan TNI ke Barak.
Aksi dimulai dengan melakukan
Sweeping di Carrefour Medan Citra Padang Bulan dan Carrefour Medan Fair untuk
mengajak kawan kawan buruh turun bersama ke jalan merayakan M day, kemudian massa
aksi berkumpul dan melakukan orasi di depan Stasion TVRI Medan kemdian bergerak
menuju Lapangan merdeka Medan untuk mengkampayekan bahwa tidak saatnya M Day
dirayakan dengan berjoget ria dengan pemerintah karena kondisi rakyat dengan
pemerintah saat ini adalah bagaikan air dengan minyak yang tidak bisa menyatu
yang mana kebijakan pemerintah belum mampu membuat rakyat sejahtera dan banyak
produk hukum di negeri ini yang belum berpihak kepada rakyat maka M Day adalah
moment bagi kita untuk berjuang menuntut kesejateraan rakyat.
Dari lapangan Merdeka Medan,
massa aksi bergerak menuju Plaza Uniland dan memblokade jalan di pusat Kapitalisme,
Imprealisme dan Neoliberalisme di kota Medan tersebut sehingga mengakibatkan
kemacetan panjang dan setelah melakukan orasi dan bakar ban kemudian massa aksi
bergerak menuju kediaman Konjen Amerika yang berada di jalan Walikota Medan, di
depan kediaman Konjen Amerika Medan massa aksi kembali melakukan orasi dan aksi
bakar ban, boneka monyet yang merupakan simbol bahwa rejim yang berkuasa saat
ini adalah boneka Negara barat khususnya Amerika, dan tanpa di duga aparat
kepolisian yang awalnya hanya beberapa orang tiba tiba bertambah banyak dan
memadamkan sisa ban yang dibakar massa aksi. Dari Kediaman Konjen Amerika massa
aksi membubarkan diri dan pulang ke rumah masing masing.
Sosialisme adalah jalan sejati pembebasan Rakyat Pekerja dan Seruan
kepada semua sektor rakyat; buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota mari
bersatu bangun partai kelas pekerja, agar kesejateraan pun menjadi milik
bersama.
Categories :
Berita Aksi,
KASBI,
Medan,
Peburuhan,
Statement
Perjuangan Petani Sumatera Utara Menuntut Tanah
Jumat, 11 Mei 2012
1.
AKSI GABUNGAN KELOMPOK TANI TANGGAL 10 APRIL
2012
KPO PRP Medan
melakukan aksi bersama Gabungan Kelompok Tani ( Kelompok Petani 71-79, HPPLKN,
Kelompok Tani Selambo, Jas Merah, Kelompok Tani Bandar Rejo Bersatu, Kelompok
Tani Maju Bersama Rakorba), PPRM Sumut, Perempuan Mahardika, SMI Cab. Medan,
FDM, L-Kesra Pusat, DKR Sumut. Aksi kali
ini dilatar belakangi maraknya pembangunan perumahan (proverty) di tanah Eks
Hak Guna Usaha (HGU) PTPN II yang sekarang dikuasi oleh Mafia Tanah yang antara
lain;
a. Desa
Helvetia (kelompok Tani HPPLKN) ; adanya pembangunan perumahan (proverty) di
belakang Graha Helvetia tanpa adanya surat surat kepemilikan yang terindikasi
dibangun Tamin Sukardi dan dengan arogan nya merubuhkan, menghancurkan dan
meratakan mesjid yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat penggarap Eks HGU
PTPN II. Selain itu, preman bayaran yang disuruh oleh Mafia Tanah juga
melakukan intimidasi, penculikan, penganiayaan serta penggoroyokan terhadap
Saifal Bahri ketua HPPLKN dan yang anehnya sampai saat ini kasus penganiayaan
tersebut belum ditangani serius oleh Kapolres Belawan.
b. Desa
Marendal (Kelompok Tani 71-79) ; pembangunan perumahan villa indah permai yang
diprakarasi oleh PT. Mitra Karya Lestari yang terindikasi dibangun oleh Usman
Akiong. Di kelompok tani ini kepolisian resort kota Medan melakukan salah
tangkap terhadap Sahat Sirus Rajaguguk padahal yang dicari adalah Bernard
Aritonang, anggota kelompok tani juga banyak di intimidasi dan dianiaya preman
preman bayaran.
c. Desa
Selambo ; pembangunan perumahan PT. Bangun Graha Lestari, dan PT. Bangun Graha
Lestari bekerja sama dengan Samsul Sianturi melakukan penggusuran, intimidasi,
penganiayaan terhadap masyarakat penggarap, dan sampai saat ini laporan
mengenai penganiayaan tersebut belum ditanggapi Kepolisian Resort Medan.
d. Desa
Dagang Kerawang; terbangunnya yayasan pendidikan Nurul Amaliyah tanpa ada bukti
kepemilikan oleh H.M. Suprianto alias Anto Keling yang mengakibatkan kriminalisasi
terhadap anggota kelompok tani yakni Eko, Senja, Dsb yang sampai saat ini masih
di dalam tahanan.
Aksi pertama
kali dilakukan pada Hari Selasa tanggal 10 April 2012 dengan targetan melakukan
Recklaiming (Pendudukan) di lahan kelompok tani Desa Helvetia (kelompok Tani
HPPLKN) yang dikuasai oleh Mafia Tanah di belakang Graha Helvetia. Pada Pukul
10.00 WIB Massa Aksi berkumpul di Bundaran SIB dan melakukan orasi serta
kampanye public agar masyarakat tidak membeli bangunan rumah (proverty) diatas
tanah masyarakat di lahan Eks HGU PTPN II dan pada Pukul 11. 30 Massa Aksi
bergerak menuju Pasar IV, Desa Helvetia, Kec. Labuhan Deli, Kab. Deli Serdang.
Massa Aksi
kemudian merubuhkan pintu masuk dan tembok tembok yang selama ini menghalangi petani
Helvetia masuk ke tahan yang mereka garap. Setelah pintu masuk dan tembok
rubuh, massa aksi masuk dan menduduki lahan yang selama ini dirampas oleh mafia
tanah, melakukan peletakan batu pertama mesjid mereka yang telah diratakan
pihak mafia tanah, dan membuat posko sementara. Tetapi saat ini Saifal Bahri
ketua kelompok tani HPPLKN (Helvetia) masih terus mendapat intimidasi dan
ancaman dari orang yang tidak dikenal yang diduga adalah suruhan mafia tanah
bahkan rumah Saifal Bahri berkali kali kena lemparan batu yang mengakibatkan
kaca rumah pecah.
2.
TINDAKAN REPRESIF APARAT TNI TERHADAP AKSI DAMAI
KOMITE TANI MENGGUGAT PADA TANGGAL 13 APRIL 2012
Untuk Kota Medan
telah terbentuk Front/Aliansi “KOMITE TANI MENGGUGAT” yang beranggotankan KPO
PRP Medan, Gabungan Kelompok Tani ( Kelompok Petani 71-79, HPPLKN, Kelompok
Tani Selambo, Jas Merah, Kelompok Tani Bandar Rejo Bersatu, Kelompok Tani Maju
Bersama Rakorba), PPRM Sumut, Perempuan Mahardika, SMI Cab. Medan, FDM, L-Kesra
Pusat, DKR Sumut, PMKRI Cab. Medan.
Komite Tani Menggugat
melakukan aksi damai di Bundaran Air Mancur depan Kantor Pos Besar jalan Balai
Kota Medan pada Hari Jumat Tanggal 13 April 2012 dengan maksud menyampaikan
berbagai persoalan tanah di Sumut Kepada Wakil Presiden Boediono yang sedang
melakukan kunjungan kerja di Medan. Massa aksi yang hanya berjumlah puluhan
orang membentang poster poster dan
memberikan orasi yang berisi permasalahn tanah di Sumut dan tuntutan agar wakil
Presiden Boediono segera menuntaskannya. Beberapa aparat TNI dan Kepolisian mendatangi
massa aksi dan meminta massa aksi untuk bubar akan tetapi massa aksi tidak
bergeming.
Kemudian massa
aksi aksi dihadang dan di blokade oleh aparat TNI yang berjumlah sekitar
seratusan orang (yang tentu saja tidak sebanding dengan jumlah massa aksi yang
hanya puluhan orang,) aparat TNI lalu membentuk tiga lapis barisan untuk
menutup dan menghalangi massa aksi. Beberapa saat kemudian aparat TNI merampas
secara paksa poster poster yang dibentangkan massa aksi dan merobeknya dan
menyeret secara paksa bahkan mengangkat secara paksa beberapa orang massa aksi
untuk masuk ke jalan di depan Bundaran Air Mancur. sesampai disana massa aksi
kembali di blokade aparat selama lebih kurang 30 (Tiga Puluh) Menit.
Tindakan
represif aparat TNI Tersebut telah melukai seorang anak kecil (anak dari
kelompok tani Helvetia) yang tangannya di pijak oleh aparat TNI, Kartika (kawan
dari Perempuan Mahardhika) di angkat paksa oleh tiga orang aparat TNI dan
lehernya dicekik , menghancurkan Toa yang digunakan massa aksi untuk orasi,
Pimpinan Aksi (Pias) kehilangan uang dan kunci sepada motor dari saku baju nya,
tidak hanya itu kawan kawan pers yakni Tuti Lubis (SCTV), Ayat Hasibuan (Trans
TV) dan Bahana Situmorang (TvOne) juga terluka akibat terkena pukulan, sikutan
aparat TNI.
3.
AKSI KOMITE TANI MENGGUGAT PADA TANGGAL 16 APRIL
2012 “SELESAIKAN KASUS SENGKETA TANAH DI LAHAN EKS HGU PTPN II” dan “SEGERA
BENTUK PANSUS PENYELESAIAN TANAH DI DPRD SU”.
Pada Hari Senin tanggal
16 April 2012 Komite Tani Menggugat yang beranggotan KPO PRP Medan, Gabungan
Kelompok Tani ( Kelompok Petani 71-79, HPPLKN, Kelompok Tani Selambo, Jas
Merah, Kelompok Tani Bandar Rejo Bersatu, Kelompok Tani Maju Bersama Rakorba),
PPRM Sumut, Perempuan Mahardika, SMI Cab. Medan, FDM, L-Kesra Pusat, DKR Sumut,
PMKRI Cab. Medan kembali turun ke jalan melakukan aksi mendesak DPRD SU untuk
segera menyelesaikan Sengketa Tanah Eks HGU PTPN II dengan membentuk pansus.
Selain itu aksi
ini juga bertujuan agar Mustafawiyah (sekretaris Komisi A DPRD SU) segera
dicopot karena tindakan arogannya terhadap delegasi Komite Tani Menggugat pada
hari Jumat Tanggal 13 April 2012 yang ingin menagih janji Ketua Komisi A DPRD
SU untuk mengundang Kapoldasu dan Kelompok Tani, yang mana pada saat kejadian
tersebut Mustafawiyah yang adalah kader Demokrat tersebut membentak dan
mengusir kasar delegasi Komite Tani Menggugat.
Massa aksi
berkumpul di kantor DPRD SU dan melakukan orasi, namun informasi yang didapat
bahwa semua anggota DPRD SU sedang tidak berada di tempat karena sedang
mengikuti perayaaan hari Jadi Provinsi Sumatera Utara di kantor Gubernur
Sumatera Utara, maka massa aksi pun bergerak ke Kantor Gubernur Sumatera Utara
dan disana delegasi massa aksi diterima perwakilan Gubernur Sumut dan
perwakilam tersebut berjanji akan segera menyelesaikan sengketa tanah di lahan
Eks HGU PTPN II.
Dari kantor
Gubernur Sumut, massa aksi bergerak menuju Kantor DPD Partai Demokrat yang
berada di jalan Multatuli Medan untuk mendesak agar kader mereka Mustofawiyah
segera dicopot atau di re call karena tindakannnya yang arogan terhadap
delegasi kelompok tani. Massa aksi diterima oleh pengurus DPD Partai Demokrat
Sumut dan berjanji akan segera menindak keras tindakan kadernya tersebut. Dari
kantor DPD Partai Demokrat Massa aksi kemudian membubarkan diri.
Pasal 6 UU No. 5
Tahun 1960 Tentang Undang Undang Pokok Agraria Mengatur bahwa semua hak atas
mempuyai fungsi sosial, hak atas tanah tersebut meliputi hak milik (HM), Hak
Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Pakai (HP), Hak Sewa, Hak
Membuka Tanah, Hak Memungut Hasil Hutan, dan hak hak lainnya. Fungsi sosial tanah menurut penjelasan Pasal
6 UU No. 05 Tahu 1960 adalah hak atas tanah apapun yang ada pada seseorang
tidak mutlak dapat dibenarkan bahwa tanah itu akan dipergunakan (atau tidak
dipergunakan) SEMATA MATA UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI APALAGI KALAU HAK ITU
MENIMBULKAN KERUGIAN BAGI MASYARAKAT. Dengan melihat fakta yang terjadi di
lahan Eks HGU PTPN II pada khusunya dan tempat lain pada umumnya, benarkah
fungsi sosial tanah sudah terwujud? Tentu jawabannya tidak karena tanah hanya
dikuasi dan di nikmati oleh kaum pemodal (mafia tanah) yang kong kali kong
dengan pemerintah merampas tanah yang berfungsi sosial. Maka SOSIALISME adalah
satu satunya jalan pembebasan bagi Rakyat, dengan Sosialisme maka semua rakyat
akan memiliki tanah dan tanah untuk rakyat bukan untuk pemilik modal, semua
rakyat akan memilki alat produksi yang sekarang ini masih dikuasasi oleh Kaum
Pemodal.
Tindakan represif
aparat TNI terhadap Massa aksi Komite Rakyat Menggugat yang ingin menyampaikan
keluhan mengenai masalah tanah di Sumut Kepada WaPres Boediono dan tindakan
Mustofawiyah yang nota bene wakil rakyat tersebut jelas sangat memalukan dan
menunjukkan rejim dan partai yang berkuasa pada saat ini TIDAK PRO RAKYAT dan
Sudah tidak bisa dipercaya lagi, untuk itu kawan kawan mari kita satukan tekad
dan tujuan membangun PARTAI PRO RAKYAT yakni PARTAI KELAS PEKERJA.
Categories :
Berita Aksi,
Medan,
Petani
Kertas Posisi dan Evaluasi Sekber Buruh Terhadap Aksi Penggagalan Rencana Kenaikan Harga BBM 30 Maret 2012 di Depan Gedung DPR-RI
Minggu, 22 April 2012
![]() |
| Dok FB Andreas Iswinarto |
Sekretariat Bersama Buruh (sementara) Kantor LBH Jakarta, JL.
Diponegoro No. 74 Jakarta Pusat
I.
Radikalisasi Perlawanan Massa lah
yang menggagalkan rencana kenaikan harga BBM
Rencana pemerintah untuk menaikkan
harga BBM telah den gan sukses berhasil digagalkan oleh gerakan massa yang
melakukan perlawanan dengan segenap kemampuan yang ada pada dirinya: mobilisasi
ratusan hingga ribuan massa, blokir jalan, blokir bandara, blokir tol, sweeping kawasan, bakar
ban, bakar pos polisi, jebol pagar DPR, perang batu dan molotov vs gas air
mata, bentrok dengan polisi dan lain sebagainya.
Penolakan kenaikan harga BBM yang
juga sudah dikumandangkan sejak hari Perempuan 8 maret 2012, semakin membesar
seiring dengan rencana pemerintah yang kabarnya akan menetapkan kenaikan harga
BBM pada tanggal 1 April 2012.
Pembesaran massa dan radikalisasi
perlawanan semakin membesar seiring dengan semakin mendekatnya rencana kenaikan
harga BBM di tanggal 1 April dan mulai dibahasnya rencana kenaikan harga BBM
ini di DPR. Setelah aksi buruh di depan istana
21 maret, pembesaran perlawanan dan radikalisasi perlawanan dimulai di Medan, 26
Maret 2012, dimana walaupun Bandara Polonia telah dipasang pagar kawat
berduri pun, tetap berhasil dijebol dan
massa pun berhasil memblokade bandara dan akses menuju ke bandara.
Berkembangnya isu dan kampanye bahwa
27 Maret 2012 akan terjadi aksi besar-besar berhasil mendorong berbagai elemen
masyarakat terutama mahasiswa dan buruh, untuk melakukan aksinya pada hari
tersebut. Walaupun secara jumlah mungkin tidaklah terlalu besar (ratusan dan di
sejumlah tempat mencapai ribuan), tetapi aksi perlawanan terjadi dimana-mana,
dan massa menunjukkan perlawanan terbaiknya, sehebat-hebatnya yang ia miliki. Sekber
Buruh sendiri pada tanggal 27 Maret turun
melakukan aksi pelabuhan Tanjung Priok.
Berikutnya 28-30 maret, perlawanan
massa dan radikalisasi massa semakin menghebat, dan memberikan “sinyal/pesan”
yang jelas dan tegas kepada siapapun, dan terutama kepada partai politik di
parlemen dan juga kepada pemerintah tentunya, bahwa jika pemerintah dan
parlemen (DPR) tetap memutuskan menaikkan kenaikan harga BBM, maka perlawanan
yang lebih hebat lagi bisa saja terjadi. “Sinyal/pesan” yang tegas inilah yang kemudian ditangkap oleh Golkar,
dimana pada tanggal 29 Maret dalam jumpa pers DPP partai Golkar secara resmi juga
memberikan sinyalemen penolakan kenaikan harga BBM dan diperkuat oleh
pernyataan Ketua Umumnya yang menyatakan bahwa tidka perlu ada kenaikan harga
BBM.
Aksi perlawanan bukan lagi hanya
dilakukan oleh mahasiswa dan buruh melainkan banyak elemen masyarakat luas juga
mulai terlibat dalam aksi menentang kenaikan harga BBM. Para supir pun di
sejumlah tempat mulai menyatakan sikapnya. Inilah yang kemudian kita saksikan
pada aksi tanggal 30 Maret 2012 di depan gedung DPR-RI, dimana bukan saja massa
mahasiswa, ataupun buruh dari KSPI, KSPSI atau SEKBER BURUH, melainkan banyak
kelompok dan elemen masyarakat lain dan individu bergabung dalam barisan massa
menolak kenaikan BBM ini di depan gedung DPR RI. Sejumlah kawan-kawan Sekber
Buruh Bekasi sejak pagi hingga petang juga berhasil mengeluarkan ribuan buruh
dari pabrik-pabrik walau sebagian besarnya tidak ikut datang ke DPR.
Bagi kami, pelibatan massa luas dari berbagai elemen dan kelompok
masyarakat bersatu, berkumpul bersama dalam
barisan perlawanan adalah sebuah keberhasilan. Soal selanjutnya, bagaimana
memimpin massa ini adalah soal yang lain, lebih menyangkut hal-hal teknis di
lapangan.
II.
“Kemenangan” sudah bisa diperkirakan
saat PKS dan Golkar menunjukkan indikasi menolak rencana kenaikan harga BBM. Partai-partai
politik di DPR ingin mengambil keuntungan dari perjuangan massa di luar
parlemen.
Melihat pembesaran opini dan aksi
kongret perlawanan penggagalan rencana kenaikan BBM terus semakin membesar dan
semakin berani (radikal) nampaknya tidak dapat dicegah, setelah para pimpinan PKS memberikan sinyal
menolak rencana kenaikan BBM, Golkar pun
akhirnya berbalik arah dan berdiri dalam barisan partai yang “tidak setuju” dengan
rencana kenaikan pemerintah. Jelas
dengan sikap Golkar “menolak kenaikan BBM” maka secara hitung-hitungan jumlah
suara di parlemen, kelompok partai yang menolak rencana kenaikan BBM (PDI
Perjuangan, Gerindra, Hanura, PKS dan Golkar) jumlahnya lebih besar dari pada partai pro
kenaikan harga BBM (Demokrat, PPP, PAN, dan PKB). [1]
Jelas bagi kami, baik partai-partai
yang sejak awal menyatakan diri menolak rencana kenaikan BBM (PDI Perjuangan,
Gerindra dan Hanura) dan juga yang belakangan (PKS dan Golkar) sejatinya
bukanlah partai yang memang berjuang untuk kepentingan rakyat. Kita tahu bahwa
PDI Perjuangan, saat berkuasa juga menaikan harga BBM, bahkan di bulan Januari
2012 pun, Megawati justru “menyerukan” kenaikan harga BBM. Apalagi partai
Gerindra dan Hanura yang merupakan partai warisan Orde Baru, dimana para
pimpinannya justru bertanggungjawab atas
penderitaan rakyat selama masa orde baru dan akibatnya hingga saat ini. Begitu
pula halnya dengan PKS, yang Golkar yang baru di titik akhir
baru berani menyatakan sikap “menolak” rencana kenaikan harga BBM oleh
pemerintah.
Bagi kami, sikap parpol yang
menolak rencana kenaikan harga BBM sejatinya, bukanlah partai yang berjuang
untuk kepentingan rakyat melainkan untuk kepentingan mereka sendiri. Dalam sikap
penolakan terhadap kenaikan harga BBM, jika saja mereka memang serius, tentu
dengan massa simpatisan yang mereka miliki dan dana yang sangat besar,
kemampuan mereka untuk memobilisasi massa dalam jumlah besar pastilah mampu
mereka lakukan. PDI Perjuangan pastinya jika saja mereka serius menolak
tentunya bisa memobilisasi puluhan hingga ratusan ribu orang, tetapi
kenyataannya hanya sedikit massa yang dimobilisasi, di beberapa tempat juga
dilakukan secara spontan oleh gerakan massa dari bawah. Begitu pula dengan
partai-partai yang lain. PKS juga demikian, apalagi Golkar.
Selain itu sikap yang ditunjukkan
partai-partai politik di parlemen selama ini dalam berbagai
perundangan-perundangan yang dihasilkannya menunjukkan bahwa mereka pro kepada sistem ekonomi neoliberal yang
semakin menyengsarakan rakyat banyak, menunjukkan bahwa merekja tidak pernah bepihak pada kepentingan rakyat.
Oleh karenanya dalam momentum
penggagalan kenaikan BBM ini menjadi penting agar keberhasilan penggagalan
kenaikan harga BBM tidak bisa diklaim bahwa keberhasilan ini dihasilkan oleh
mereka (setidaknya
image yang berkembang di masyarakat secara luas). Bagi kami ini adalah penting agar massa tidak kembali terilusi oleh
parpol-parpol di DPR, terutama pada momentum pemilu 2014 nanti. Sebaliknya, rakyat harus terus diyakinkan, dikuatkan bahwa nasib mereka,
kesejahteraan, masa depan mereka tidak bisa diserahkan kepada pemerintah maupun
seluruh parpol yang duduk di DPR saat ini. Rakyat harus membangun kekuatan
politiknya sendiri berhadapan dengan pemerintahan neoliberal dan partai-partai
yang duduk di DPR saat ini. Membangun kekuatan politik dengan dua tujuan untuk
berkuasa dan menolak sistem ekonomi kapitalisme neoliberal dan membangun sistem
ekonomi yang berpihak kepada rakyat banyak.
Perlawanan massa sekuat-kuatnya,
adalah salah satu jalan untuk mencegah klaim ini. Dan bagi kami, salah satunya,
adalah dengan cara memberikan sikap dan pesan yang tegas, dan bukan sekedar
“duduk-duduk diam menunggu hasil keputusan di parlemen”. Penjebolan pagar
pembatas jalan antara
jalan depan DPR dengan jalan Tol, pemblokiran tol di
depan DPR, hingga penjebolan pagar dan pintu gerbang DPR, bersama tekanan
ribuan massa, jauh lebih tepat dibanding dengan sekedar “duduk diam, sekedar berorasi dan menunggu hasil keputusan di parlemen”, walaupun ada
“embel-embel” akan bergerak lebih radikal jika
yang menang di DPR adalah yang bersepakat kenaikan BBM.
Penjebolan pagar pembatas tol juga
tepat, baik untuk pertimbangan keamanan massa saat direpresi, agar tempat aksi menjadi lebih luas, ataupun untuk
kepentingan blokir tol dan agar massa/rakyat luas bisa
bergabung dalam barisan massa.
Selain itu, penolakan atas atas intervensi
anggota parpol dalam barisan massa, merupakan bagian dari usaha untuk mencegah
ilusi massa terhadap partai politik yang saat ini sedang memperbaiki citranya
agar berkesan berpihak kepada kepentingan rakyat.
Kritik Sekber Buruh terhadap “Pimpinan FSPMI/Garda Metal”
1.
Penarikan massa untuk mundur sesaat
setelah Rieke DP disorakin diminta turun, dan tanpa koordinasi dengan barisan massa lainnya yang awalnya
telah bersepakat untuk aksi bersama di lapangan.
2.
Melakukan kekerasan (intimidasi dan
pemukulan) terhadap sesama buruh dan peserta aksi saat mulai terjadi represi
(penembakan gas air mata).
Bahkan, menurut laporan dari sejumlah kawan Sekber Buruh, tindakan ini
memang diinstruksikan, disetting, direncanakan jauh sebelum terjadinya represi.
Artinya, tindakan kekerasan terhadap buruh/massa aksi, memang direncakan. Jelas
tindakan ini sangat memalukan, dan melukai solidaritas dan usaha-usaha persatuan
yang berkali-kali dan kami “mohonkan” kepada kawan-kawan FSPMI. Pastinya banyak
kawan-kawan anggota Garda Metal, yang mempertanyakan tindakan memalukan ini.
Kami yakin, sejatinya banyak anggota Garda Metal yang memandang bahwa
seharusnya mereka justru melindungi kawan-kawan buruh/massa aksi yang saat itu
berusaha dibubarkan oleh tembakan gas air mata. Bahkan kalaupun harus
berhadap-hadapan, kalau harus melawan, maka musuhnya bukan kawan-kawan
buruh/massa aksi yang saat itu mundur, melainkan melawan tindakan aparat
kepolisian.
3. Soal ajakan persatuan oleh Sekber Buruh yang “tidak direspon serius”
Secara jujur, kami Sekber Buruh sangat senang melihat perkembangan gerakan
buruh secara umum. Dimana saat ini gerakan solidaritas mulai dapat dibangun,
radikalisasi perlawanan juga mulai terjadi dalam perlawanan kaum buruh,
setidaknya dalam dua momentum terakhir (upah dan BBM), dan terakhir adalah
tuntutan buruh yang juga mulai membawa isu-isu rakyat kebanyakan
(sosial/publik) yang bukan spesifik buruh, misalnya dalam isu BBM lalu. Salah
satu yang kami sasar adalah kawan-kawan FSPMI terutama di Bekasi, (walau di
tempat lain justru mengecewakan misalnya kasus FSPMI Tangerang yang justru menjadi salah satu pihak yang menandatangini upah
minimum yang rendah dan tidak bergabung dalam barisan persatuan menolak upah
murah).
Usaha untuk membangun persatuan (baik secara konsep maupun
dalam bentuk perjuangan kongkret) yang selalu kami dorong seringkali tidak
sesuai dengan harapan kami. Salah satunya adalah momentum perlawanan kenaikan
BBM ini. Ajakan kami untuk bertemu dan mendiskusikan strategi perlawanan
bersama, seringkali dipandang “sebelah mata”. Jawaban yang kami terima baik
pada aksi tanggal 21 Maret, maupun pada tanggal 30 Maret, adalah “ketemu dan
koordinasi di lapangan saja”.
Bagi kami sikap inilah yang kemudian pada akhirnya
menimbulkan perbedaan sikap di lapangan pada saat aksi tanggal 30 Maret, yang
lebih jauh justru menghasilkan benturan (tepatnya intimidasi dan kekerasan yang
dilakukan oleh Garda Metal terhadap kawan-kawan buruh/peserta aksi).
Bagi kami persatuan sesama kaum buruh adalah sangat penting.
Kami tidak memandang berapa besar jumlah massa yang dimiliki oleh masing-masing
serikat. Karena bagi kami, kalaupun bersatu seluruh serikat buruh yang ada di
Indonesia, jumlahnya masihlah sangat kecil dibandingkan keseluruhan rakyat.
Perjuangan untuk membangun kekuatan politik yang lebih besar dan membangun
sistem ekonomi yang lebih baik membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar.
Tetapi setidaknya, jika terbangun persatuan seluruh serikat buruh, setidaknya
jalan ini menjadi lebih terbuka dan bisa mengajak/mempelopori sektor-sektor
lainnya untuk bersama-sama
membangun kekuatan politik yang sanggup mewujudkan cita-cita
untuk mengangkat Buruh/Rakyat ke tampuk kekuasaan sejati dan menciptakan Indonesia yang adil dan makmur untuk rakyat kebanyakan.
Bagi kami, persatuan ini harus dibangun secara independen dan
justru menghindari intervensi dari partai politik di DPR saat ini yang semuanya
sejatinya pro pada kapitalisme neoliberal. Persatuan yang dibangun bahkan
seharusnya dibangun
berdasar landasan kesamaan dalam menolak
kapitalisme neoliberal yang saat ini sudah terbukti gagal mensejahterahkan rakyat Indonesia dan rakyat dunia.
Demikianlah Kertas Posisi, Evaluasi dan
Kritik terbuka kami.
Salam juang, solidaritas selalu...
[1]
Total suara di DPR 560 suara. Suara
kelompok partai di DPR yang menolak kenaikan
BBM: PDI Perjuangan, Hanura,
dan Gerindra berjumlah 137
suara, kalau ditambah PKS jumlahnya menjadi 194 suara. Tetapi kalau ditambah
Gokar jumlahnya menjadi 300 suara. Artinya lebih besar dibandingkan suara
kelompok partai pro kenaikan BBM.
Categories :
Berita Aksi,
Peburuhan,
Statement
Langganan:
Postingan (Atom)


